Sabtu, 19 Desember 2015

Explore The City of Bangkok


Keramaian di depan Platinum Mall, Bangkok.
Terus terang sebenarnya saya belum begitu tertarik pergi ke Thailand saat akan trip kali ini. Sampai saat itu tiket lanjutan dari Kuala Lumpur yang murah mengarah ke Siem Reap, sehingga jika tidak mengunjungi Thailand rasanya kurang komplet. Apalagi konektivitas di Thailand ke berbagai negara tetangganya lumayan bagus. Mau pakai jalur darat ke Kamboja, Malaysia, Laos, hingga Myanmar bisa dilakukan. Turis asing yang terbang dari benua lain pun sepertinya banyak yang memulai perjalanan di Thailand. Buku panduan seperti Lonely Planet pun untuk section Asia Tenggara menggunakan Thailand sebagai starting point untuk turis yang berencana keliling ASEAN.

Katanya Thailand surganya backpackers, saya pun mengangguk setuju karena harga apapun di negara ini masih cukup affordable bagi orang Indonesia. Berbagai jenis kegiatan wisata pun tersedia dengan berbagai tingkat budget. Mau wisata dengan luxurious maupun jalan ala gembel terakomodir di negara ini.

Awalnya bila tidak mengunjungi Thailand, kami akan melanjutkan perjalanan ke Vietnam dan terbang ke Singapura dari Ho Chi Minh serta naik bus dari Singapura ke Kuala Lumpur. Terdengar asyik bukan, sih? Namun karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika (saat saya berangkat, 1USD = 13350 IDR) dan Dollar Singapura, kami memutuskan untuk mengunjungi Singapura di lain waktu.

Hari kedua kami di Thailand jatuh di hari sabtu sehingga pas dengan bukanya Chatucak Weekend Market. Kami pun naik MRT menuju stasiun MRT Kamphong Paet dari Hua Lamphong. Tiketnya lumayan mahal, THB 42. Hampir sama dengan tiket kereta api dari Aranyaprathet ke Bangkok. Sepertinya memang tiket MRT tidak di subsidi karena mahal. Saat masuk ke stasiun, ada petugas wanita yang mengecek isi tas calon penumpang. Ketika masuk platform dan masuk ke dalam gerbongnya, kami cukup terkejut. MRT Bangkok rupanya tidak kalah dengan MRT Singapura maupun MTR Hongkong, bersih, nyaman, dan cepat.

Setelah melewati belasan stasiun, tiba lah kami di Stasiun MRT Kamphong Paet. Hawa keramaian sudah mulai terasa di pintu keluar dan sampailah kami di Pasar Chatuchak yang banyak dibicarakan orang-orang. Entah di section apa kami masuk, karena sudah ramai sekali keadaan pasar ini. Pasar Chatuchak ini jualannya macam-macam. Mulai dari baju, makanan, minuman, tumbuhan, binatang, pernak pernik, boneka, tas dan entah apa lagi ada di pasar ini. Orang-orang pun banyak berjejalan. Dari beberapa percakapan yang terdengar pun banyak Orang Indonesia yang mengunjungi. Teman-teman saya pun berbelanja macam-macam, sedangkan saya belum beli apa-apa akibat tak tahu mau beli apa.

Chatucak Weekend Market

Tibalah kami di distro yang dijejali banyak orang di bagian tengah, eh ternyata lagi ada sale! 100 Bath dapet 2 kaos gede. Lumayan lah dapet 4 kaos cuma 200 Bath, pas ukuran saya pula. Beberapa pedagang pun kadang ada yang bisa bahasa Indonesia. "Sini sini. Murah murah". Teman saya pun mampir dan borong ikat kepala yang dijual seorang ibu tua yang memanggil kami pakai Bahasa Indonesia. Ada sekitar tiga jam kami keliling di Pasar Chatucak. Sepanjang mutar-mutar pasar, rata-rata pedagangnya tidak mau tawar-tawaran sih, sudah fixed price, sehingga saya tidak begitu tertarik berkeliling. Pasar Beringharjo di Yogyakarta lebih unggul dalam hal budaya tawar-menawar, sekalipun anda turis. 

Kalau saya lebih banyak beli jajan dan cemilan. Favorit saya di Pasar Chatucak adalah coconut ice cream. Isinya belahan kelapa yang airnya dikasihin ke kita, terus di batok kelapa yang masih ada dagingnya itu diisi 2 scoop es krim dan toping yang bisa milih. Saran saya pilih lah toping kacang merah dan Nata de Coco, maknyus! Harganya lumayan murah, 35 Bath dan dipenuhi antrean yang 
rata-rata turis.


Maknyus nih Coconut Ice Cream!
Bosan di Pasar Chatucak, kami pergi menuju Pratunam Market, yang dari hasil browsing katanya lebih murah untuk barang tekstilnya dibanding Chatucak. Dari MRT kami transit di Siam untuk menuju BTS Ratchathewi. Ternyata naik BTS dan MRT beda ticketingnya. Kalau naik BTS agak repot, cuma bisa beli tiket pakai koinan sehingga ada konter khusus penukaran koin. Keretanya tidak kalah enak dengan MRT, bedanya, BTS berjalan di "atas" tanah alias melayang.

Turun di BTS Ratchathewi, ternyata jalannya lumayan jauh. Hampir saja kami menyerah dan naik taksi. Tibalah kami di kerumunan ramai orang-orang. Saat kami tanya orang, katanya ini Pratunam Market. Lho? Yang saya baca sih dekat Baiyoke Hotel. Jadi mana dong hotelnya? Saat masuk ke dalam, ada sign menuju Baiyoke tower. Saat kami ikuti malah tidak ada apa apa. Waduh nyasar!
Untuk memastikan lagi saya pun tanya bakul disitu. Katanya memang benar disitu adalah Pratunam Market. Kami pun berkeliling namun tidak beli apa apa karena kurang tertarik. Sebenarnya untuk barang tekstil tertentu harganya lebih murah di Pratunam Market. Pedagang akan memberi potongan harga yang lebih banyak jika membeli dalam partai besar. 

Sejam tidak jelas, kami memutuskan ke Platinum Mall yang ada di seberang Pratunam Market. Misi utama kami ya cari makanan karena sudah luar biasa lapar. Untung harga makanan di foodcourt murah banget. Akhirnya kami makan Sup Tom Yam. Enak banget! Kami pun makan dengan lahap, tapi sayangnya di foodcourt ini tidak bisa merokok. Selesai makan kami berkeliling mall ini. Jualannya rata-rata produk fashion, baik pria maupun wanita. Mungkin karena sudah capek, kami jadi malas berkeliling dan cuma duduk-duduk ngadem.

I got my first tom yum.

Selesai dari Platinum kami langsung balik ke hostel karena sudah Capek sekali. Seperti biasa agar mudah kami naik MRT. Sebelum tiba di stasiun MRT kami sempatkan foto-foto di depan KBRI Bangkok. 

Pengen nyobain naik bus sebenarnya, karena cuma THB 6 sekali jalan untuk yang non AC. Namun karena tidak tahu rutenya kami naik MRT dulu hari itu. Hari pertama di Bangkok cuma kami habiskan buat belanja doang! Ha.

Tidak terasa sudah hari ketiga kami di Bangkok.
Setelah "tewas" semalaman di dorm hostel. Pagi ini kami berencana check out dan check in ke hostel di wilayah Sukhumvit. Untuk barang-barang gede dan berat kami tinggal di luggage storage karena lusanya kami check in lagi di hostel ini. Siang hari sekitar pukul 10.00, kami pergi menuju Wat Pho Temple yang merupakan salah satu destinasi utama di Bangkok. Beruntung hostel berada di dekat pier (dermaga) Chao Phraya Boat sehingga kami menumpang boat ini menuju Wat Pho.


dermaga si phraya express
kapalku tiba
Wat Arun ada di seberang Wat Pho, sayangnya pas kesana lagi ada renovasi.
Lima belas menit kemudian, tibalah kapal panjang yang menjadi angkutan kami ini. Setelah kapal bersandar, naik lah kami sambil lompat ke kapal yang sedang "hoyag hayig" alias gerak-gerak ini. Kelar penumpang naik turun, penumpang dipersilakan naik dan kapal berjalan dengan kecepatan standar membelah sungai. Hotel-hotel mewah dan kafe banyak bertebaran di pinggiran sungai, membuktikan ke-eksis-an sungai Chao Phraya yang jadi salah satu icon pariwisata di Bangkok. Saya mengaku, salah satu keinginan saya jika pergi ke Bangkok ya simple saja, nyobain naik kapal di sungai. Padahal, warna air sungai ini pun tidak jernih, cenderung cokelat kehitaman malah.

Lagi asyik-asyik ngobrol sama teman, seorang mbak cantik menyapa saya.

"Orang Indonesia, ya, mas?"

Obrolan berlanjut ringan karena kami akan menuju destinasi yang sama dan si mbak menanyakan apakah dermaga ke Wat Pho sudah dekat.

Setelah melewati beberapa pier, tibalah kami di dermaga tujuan untuk menuju Wat Pho. Begitu masuk dermaga, kami melewati bangunan semi permanen yang sedemikian rupa yang dipenuhi berbagai macam barang dagangan khas untuk turis. Pedagang pun banyak yang menggelar dagangan di pinggir Kuil. Saat saya lewat terkadang juga ditawari pedagang dengan bahasa Indonesia,"Ayo murah, murah ini." Ya, Thailand secara umum dan Bangkok pada khususnya saat ini makin populer di kalangan Turis Indonesia. Beberapa kali kami bertemu rombongan tour asal Indonesia di kota Bangkok.

Dengan membayar THB 100 (untuk turis asing), kami pun dapat pass masuk yang juga sudah termasuk air mineral dingin ukuran 330ml. Sebelum masuk, sudah disediakan tas tempat sandal karena Kuil ini tempat ibadah, maka alas kaki totally forbidden. Hal lain yang harus diperhatikan adalah pakaian anda. Ingat, ini tempat ibadah sehingga anda diwajibkan menggunakan pakaian yang sopan. Terlihat beberapa turis yang pakai celana pendek sepaha dan kaos buntung seperti ke pantai sehingga di pinjami sarung oleh petugas.


Wat Pho Temple
Hal yang menarik dari Wat Pho adalah adanya Patung Budha yang berpose miring seperti tidur yang terbuat dari emas. Candi yang terkenal dengan nama Temple of the Reclining Buddha ini dibuat saat pemerintahan Raja Rama I pada abad ke-16 dan untuk patung Reclining Buddha dibangun pada saat pemerintahan Raja Rama III. Patung Reclining Buddha di Wat Pho ini adalah salah satu yang terbesar di Thailand, kami saja bingung saat akan mengambil foto karena panjangnya mencapai 46m!

Lukisan di pinggir tembok menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Thailand dan agama Buddha sangat menarik. Saya pun mengambil beberapa gambar lukisan tersebut. Dalam area kuil terlihat beberapa masyarakat yang sedang sembahyang. Puas menjelajah area dalam Kuil, kami pun keluar untuk duduk-duduk di luar sebelum melanjutkan menjelajah bagian lain Kuil ini.


Es Cincau Bangkok
Setelah beberapa jam berkeliling kompleks Wat Pho, kami bergegas menuju Chatucak Market (lagi). Teman-teman bilang belum puas ke Chatuchak Market kemarin sehingga agenda kami hari ini menambahkan Chatucak lagi. Indonesia banget! Tak usahlah saya ceritakan di Chatucak lagi, yang penting dan saya tekankan ke teman-teman saya, jangan ragu untuk beli karena belum tentu bisa kesini lagi, jadi daripada gelo (galau) mending beli saja. Benar saja, semua jadi pada kalap belanja. Hahaha!

Sore hari itu perjalanan selesai dari Chatucak Market, kami pun check in di hostel daerah Sukhumvit. Di luar hostel kami makan dan merokok di balkon outdoor yang ada di pinggir jalan sambil meratapi barang belanjaan dan bayang-bayang apabila over baggage saat akan terbang!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

don't forget to leave a comment